Senin, 26 Juli 2010

MOPD di SMK N 1 Seyegan


Kebetulan sekali kegiatan MOPD/ atau MOS klo dulunya sebelum di rubah. Dari Masa Orientasi Siswa menjadi Masa Orientasi Peserta Didik. Bukan sekedar merubah nama juga,namun di harapkan dapat merubah kebisaan "perploncoan".
Kebetulan akan saya sajikan berita mengenai MOPD di SMK N 1 Seyegan yang katanya unik sampai masuk liputan beberapa media baik TV,ataupun Surat kabar.
Berikut petikannya:
SLEMAN-Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap hari pertama masuk sekolah selalu diadakan masa orientasi siswa (MOS). Seakan sudah menjadi kebiasaan, tiap digelar MOS, selalu ada keunikan yang mencul. Terutama menyangkut tugas dari panitia yang ditujukan kepada siswa baru. Kesan perpeloncoan seakan tak lagi menjadi hal yang
ditabukan, asalkan MOS digelar tanpa adu atau hukuman fisik bagi para peserta.

Seperti tugas yang diberikan panitia MOS SMKN 1 Seyegan, Sleman. Siswa baru diwajibkan membawa nasi berjumlah seribu butir dan kursi seribu lipat. Bagaimana menghitungnya? Tentu saja, bagi siswa baru dibutuhkan kreativitas untuk menyiasati tugas-tugas “aneh” dari kakak-kakak kelas itu. Apalagi siswa juga disuruh membawa sayur es. Kalimat-kalimat ambigu dalam tugas memerlukan penafsiran yang jitu.
“Ini bukan perpeloncoan, tapi memang untuk mengembangkan kreativitas siswa,” ujar Ketua Pelaksana MOS SMKN 1 Seyegan Heri Sutrisno Mumu di sela-sela kegiatan, keamrin (12/7).

Seperti yang sudah diduga, sayur es menurut Heri bisa saja sayur yang huruf depannya diawali “S”. Jadi bukan sayur diberi es batu. Sedangkan kursi seribu lipat tak harus dibentuk menyerupai tempat duduk. “Bisa saja kursi itu hanya lembaran koran yang dilipat-lipat untuk duduk,” terang Heri. Nasi yang dibawa pun tak harus dihitung rinci. Sebagian siswa baru menyiasati dengan menempelkan tulisan seribu biji atau angka 1.000 pada bungkus nasi.

Sementara itu, ternyata tak semua sekolah menerapkan kegiatan MOS dengan ubarampe dan kegiatan unik di luar pembelajaran kurikulum. Di SMPN 1 Mlati Sleman, misalnya. MOS hari pertama tak nampak adanya kegiatan “aneh”, siswa baru hanya diharuskan mengenakan atribut yang neko-neko. Seperti papan nama dengan tali rafia, topi kertas, dan kaus kaki warna-warni. Selanjutnya, siswa baru hanya diberi pengenalan seputar sekolah dan materi wawasan wiyata mandala dan pembinaan kharakter. “Kami mengisi
MOS dengan metode pembelajaran di SMPN 1 Mlati. Pengenalan tata cara belajar lebih ditekankan,” terang Kepala SMPN 1 Mlati Suparto kepada wartawan.

Pengenalan lingkungan sekolah juga dilakukan oleh panitia MOS di SMAN 1 Godean. Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan SMAN 1 Godean Selamet, S.Pd mengaku khawatir kegiatan MOS yang berlebihan akan memberatkan siswa. “Siswa cukup membawa kartu identitas saja,” katanya.(yog)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

KOK PAYAH SUSAH BANGET MAU CARI PROFIL SEKOLAH? TERDAFTAR GAK SIH NI SEKOLAH.

green heroes mengatakan...

Silahkan di cari di webnya langsung...

Poskan Komentar